Kamis, 18 Juni 2009

Kerjasama LITBANG Antar Universitas


Bekerjasama dengan Universitas dalam negeri dalam bidang Inovasi, Riset dan Pengembangan dari para mahasiswanya. The Big 18 in Indonesia. (IR&D Students Alliance) UPI, UI, UGM, ITB, IPB, ITS, UNPAD, POLBAN, IT TELKOM, TRISAKTI, IAIN, Pelita Harapan, UNSOED, UNHAS, UNCEN, Universitas Sriwijaya, Universitas Mulawarman, Perguruan Tinggi Kedinasan Indonesia.


Berikut adalah daftar perguruan tinggi negeri di Indonesia, di bawah pengelolaan Departemen Pendidikan Nasional. Daftar ini tidak mencakup perguruan tinggi keagamaan di bawah pengelolaan Departemen Agama dan perguruan tinggi kedinasan yang dikelola oleh Departemen/Kementerian atau Lembaga Pemerintah Non Departemen lainnya.
Sesuai Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perguruan tinggi dapat berbentuk Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik, atau Akademi.


Daftar perguruan tinggi kedinasan di Indonesia


Berikut adalah daftar perguruan tinggi kedinasan di Indonesia, disusun berdasarkan nama departemen/kementerian/LPND yang membawahi.

Daftar isi



Semangat Semoga Kita Bisa

Senin, 01 Juni 2009

Mengenai Bandung Hi-Tech Vallley

Bissmilahirrohmanirrohim! 

Assalmulikum wr.wb. 



Tentang BHTV 

Oleh: Dr. Budi Rahardjo PPAU Mikroelektronika ITB - 1999 

Keinginan untuk mengembangkan ekonomi melalui industri ala Silicon Valley bukan merupakan hal yang baru. Sudah puluhan tahun kita mencoba, akan tetapi belum berhasil. 

Dan, tidak hanya Indonesia yang mencoba melakukan pendekatan ini. Hampir semua negara ingin memiliki Silicon Valley. 

What Does Silicon Valley Have That Others Lack? 

Departemen Perindustrian dan Perdagangan mengadakan sebuah penelitian yang melibatkan konsultan asing yang bertujuan untuk meningkatkan devisa melalui ekspor non-migas. Hasil dari survey tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2010, khususnya di bidang electronics Indonesia harus menghasilkan ekspor sebesar US$ 20 billion. 

Pada saat ini (tahun 1999), sektor ini baru menghasilkan US$ 3 billion. Jika angka US$20 billion tersebut terlihat besar, sebetulnya tidak juga. 

Negara tetangga kita, Filipina, sektor tersebut sudah mencapi US$ 26 billions. 

Maka muncullah konsep BHTV: Bandung High-Tech Valley. 

Koridor Elektronika 

Konsep dilandaskan oleh adanya sebuah "koridor Cipularang" yang dimulai dari Cilegon, menuju Jakarta, kemudian Cikarang, Purwakarta, Padalarang, dan akhirnya diletakkan "jangkar" di Bandung. 

Di sepanjang koridor Cipularang tersebut diharapkan ada industri-industri elektronika yang sifatnya besar (PMA) dan kecil menegah. 

Mengapa Bandung Pertanyaan ini sering muncul. Mengapa tidak kota lain? Ada beberapa hal yang menyebabkan "jangkar", pusat penelitian dan pengembangan diletakkan di Bandung:

* Banyak perguruan tinggi (ITB, UNPAD, UNPAR, UNISBA, STT Telkom, IKIP dst.) dan lembaga penelitian (PPAU Mikroelektronika, LIPI, RISTI, MIDC). 

* Industri (high-tech) seperti PT Telkom, POS, Telnic, CMI, LEN, dsb. 

* Kultur (banyak mahasiswa, kota mahasiswa, toko buku, software, software house, modal ventura) Dalam hal ini sebetulnya Bandung masih belum menjadi seperti Silicon Valley. Justru inilah yang ingin dikembangkan. Kota lainpun dapat dikembangan seperti ini. Usaha-usaha yang sudah dilakukan Beberapa usaha untuk menjadikan hal ini sudah dijalankan dengan motor dari PPAU Mikroelektronika ITB.

* Mengembangkan Web Site ini sebagai tempat bertukar informasi dan archive site 

* Menuliskan beberapa artikel dan proposal 

* Mengembangkan diskusi dengan pakar-pakar dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, dan teknologi. 

1 Oktober 1999. Diskusi di PPAU Mikroelektronika ITB atas undangan Kakanwil Deprindag Jawa Barat.

Hadir Deddy Gurnadi (Kakanwil Deprindag) dan staf, Ardiansyah, Suryatin (Risti), Phillip K. (PT Inti), Anima. 

28 Agustus 1999. Presentasi dan diskusi dengan Mochtar Riady. 

27 Agustus 1999. Presentasi dan diskusi dengan H. Soeharsono Sagir. Sebagian dari tulisan diarchive di web site "Untukmu Indonesia" di bagian Ekonomi. 

Diskusi dengan Iskandar Alisyahbana 


Sumber: 

1. http://indonesia.elga.net.id/bhtv/about.html 

2. http://bhtv.blogspot.com/

Senin, 18 Mei 2009

Lagu Sunda Kecapi Suling DI LANGIT BANDUNG

Lagu Sunda Kecapi Suling DI LANGIT BANDUNG



Hayu Urang Ngamumule Budaya Sunda

Minggu, 19 Oktober 2008

Bandung 19 Oktober - Seurius




Walau lelah ku coba Tuk menggapai hatimu Rindu slalu mengganggu Tuk selalu dekatmu Adakah kau merasa Hangatnya tatapanku Oh manisnya senyummu Dan kau bukan milikku Sgala yang ku beri Tak pernah berarti Berat terasa Habiskan darahku Menusuk tulangku Yang lelah Oh kasih Jangan kau buang cintaku Oh kasih Tabahkanlah aku

Kamis, 18 September 2008

Bandung Kota Kreatif

The "creative city" was a concept developed by urbanist Charles Landry in the late 1980s and has since become a global movement reflecting a new planning paradigm for cities. It is described in his The Creative City: A Toolkit for Urban Innovators and other writings.

Origins

The Creative City when introduced was seen as aspirational; a clarion call to encourage open-mindedness and imagination implying a dramatic impact on organizational culture. Its philosophy is that there is always more creative potential in a place. It posits that conditions need to be created for people to think, plan and act with imagination in harnessing opportunities or addressing seemingly intractable urban problems. 

These might range from addressing homelessness, to creating wealth or enhancing the visual environment. Its assumption is that ordinary people can make the extraordinary happen if given the chance. Creativity is seen as applied imagination. In the Creative City it is not only artists and those involved in the creative economy that are creative, although they play an important role. Creativity can come from any source including anyone who addresses issues in an inventive way be it a social worker, a business person, a scientist or public servant.

It advocates that a culture of creativity be embedded in how urban stakeholders operate. By encouraging legitimizing the use of imagination within the public, private and community spheres the ideas bank of possibilities and potential solutions to any urban problem will be broadened.

This requires infrastructures beyond the hardware - buildings, roads or sewage. Creative infrastructure is a combination of the hard and the soft. The latter includes a city’s mindset, how it approaches opportunities and problems; its atmosphere and incentives and regulatory regime. To be a creative city the soft infrastructure includes: A highly skilled and flexible labour force; dynamic thinkers, creators and implementers. 

Creativity is not only about having ideas, but also the capacity to implement them


The Creative City identifies, nurtures, attracts and sustains talent so it is able mobilize ideas, talents and creative organizations. The built environment – the stage and the setting - is crucial for establishing the milieu. A creative milieu is a place that contains the necessary requirements in terms of hard and soft infrastructure to generate a flow of ideas and inventions. A milieu can be a building, a street an area, a city or a region.

The popularity of creativity came about because of the increased recognition that the world and its economic, social and cultural structures was changing dramatically. This was driven in part information technology revolution. 

The old way did not work sufficiently well. Education did not prepare students for the demands of the new world; organization, management and leadership with its control ethos and hierarchical focus did not provide the flexibility, adaptability and resilience to cope in the emerging competitive environment; cities whose atmosphere, look and feel were industrial and where quality of design was low were not attractive and competitive. Coping with these changes required a re-assessment of cities’ resources and potential and a process of necessary re-invention on all fronts

Selasa, 19 Agustus 2008

Wilayah Metropolitan Bandung

Wilayah metropolitan Bandung adalah salah satu wilayah metropolitan yang meliputi di sekitar Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Tempat ini terletak 20 km dari wilayah metropolitan Jakarta ("Jabotabek"), dan berdekatan dengan batas Jabodetabek-Cirangkarta. Kawasan tersebut mempunyai populasi terbanyak ketiga setelah Jabotabek dan Gerbangkertosusila dan kawasan tersebut merupakan tempat berpopulasi terpadat kedua setelah Jabotabek. Kabupaten Bandung Barat memisahkan diri dari Kabupaten Bandung pada tahun 2007, berikut merupakan data yang menampilkan wilayah metropolitan Bandung sebelum pemekaran.

Minggu, 06 Januari 2008

CIPULARANG BUSINESS WAY

Jalan Tol Cipularang (CIkampek - PUrwakarta - PadaLARANG) adalah jalan tol di Indonesia yang menghubungkan kota Jakarta dan Bandung. Jalan tol ini selesai dibangun pada akhir April 2005. Tol ini membentang dari Cikampek - Purwakarta sampai Padalarang. Tol ini berada di pegunungan sehingga jalannya naik-turun dan juga mempunyai banyak jembatan yang panjang dan tinggi.
Pembangunannya dibagi 2, yaitu:
  • Tahap 1: Cikampek-Sadang dan Padalarang-Cikamuning (17,5 km)
  • Tahap 2: Sadang-Cikamuning (41 km)
Melalui tol ini, jarak Jakarta-Bandung hanya membutuhkan waktu 1 jam 30 menit (jika tidak macet) dan dihitung dari Cawang.

Jumat, 07 Desember 2007

Sunda

Kata Sunda bisa mengandung berbagai arti yang secara umum berkaitan dengan suku Sunda di bagian barat Nusantara. Catatan sejarah tertua yang sudah ditemukan mengandung kata "Sunda" adalah prasasti Kebonkopi yang dibuat tahun 458 Saka (536 M, namun ada pula yang berpendapat bahwa prasasti ini dibuat tahun 854 Saka, 932 M) yang menunjuk pada kerajaan Sunda.

Etimologi

Kata ini kemungkinan berasal dari bahasa Sanskerta yang bisa berarti 'cahaya' atau 'air'. Dalam naskah historis lainnya menyebutkan Sunda merujuk pada ibukota Kerajaan Tarumanagara yang bernama Sundapura. Sehingga masyarakat yang menghuni wilayah tersebut dikenal sebagai orang Sunda yang disebut hingga kini. Kerajaan Tarumanagara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang terbukti dengan bukti prasasti dan berita naskah kuno di negeri Tiongkok. Letak tepat kota Sundapura masih menjadi penelitian para ahli, apakah di Jakarta, Bekasi atau Karawang sekarang. Hanya di Karawang terdapat situs percandian Batujaya seluas 5 km persegi yang menunjukkan tumbuh kembangnya kebudayaan sejak abad 2 Masehi hingga abad 12 Masehi.